Lewati ke konten
PT Insan Cendekia Mandiri Group
BISSU ANTARA TABU, CINTA, DAN TRADISI Membaca Bissu Segeri dalam Sejarah, Ritual, Identitas, dan Perubahan Zaman
Sastra

BISSU ANTARA TABU, CINTA, DAN TRADISI Membaca Bissu Segeri dalam Sejarah, Ritual, Identitas, dan Perubahan Zaman

oleh Dr. Maria Ulviani, S.Pd., M.Pd.

Rp155.000

Rp170.000

Hemat 9%
Status
Stok tersedia
Tanya via WhatsApp

Deskripsi Buku

JUDUL:

BISSU ANTARA TABU, CINTA, DAN TRADISI

Membaca Bissu Segeri dalam Sejarah, Ritual, Identitas, dan Perubahan Zaman

Penulis :

Dr. Maria Ulviani, S.Pd., M.Pd.

SINOPSIS:

Bissu bukan sekadar sosok yang hadir dalam ritual. Ia adalah manusia, pelaku tradisi, pemegang pengetahuan, bagian dari ingatan sejarah, sekaligus cermin perubahan kebudayaan Bugis.

Buku ini mengajak pembaca memasuki dunia Bissu melalui Segeri, sebuah ruang budaya tempat sejarah, masyarakat, adat, ritual, spiritualitas, arajang, dan kehidupan sehari-hari saling bertaut. Dari jejak Bissu dalam sejarah, perjalanan menjadi Bissu, ritual Mappalili dan maggiri, hingga pengalaman hidup seorang Bissu, buku ini memperlihatkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang beku, melainkan kehidupan yang terus bergerak dan berhadapan dengan perubahan zaman.

Bissu dibaca melalui berbagai jendela: pengalaman pelaku, kesaksian masyarakat, perspektif akademik dan kebudayaan, serta refleksi yang lahir dari pengalaman lapangan. Perbedaan perspektif tidak ditempatkan untuk menghasilkan satu jawaban tunggal, melainkan untuk memperlihatkan bahwa Bissu memiliki sejarah, identitas, pengetahuan, pengalaman, dan kehidupan sosial yang kompleks.

Di tengah modernisasi, perubahan sosial, perkembangan media, dan tantangan regenerasi, muncul pertanyaan penting: siapa yang akan meneruskan pengetahuan ini, dan apa yang sebenarnya harus dijaga?

Sebab melestarikan Bissu bukan hanya menjaga ritual, pakaian, benda pusaka, atau pertunjukan. Yang perlu dijaga adalah pengetahuan, ingatan, praktik, ruang budaya, martabat, dan manusia yang membuat tradisi tetap hidup.

Pada akhirnya, buku ini mengajak kita:

Mengenal sebelum menilai.

Mendengar sebelum menafsirkan.

Memahami konteks sebelum memberi label.

Dan melihat manusia sebelum melihat objek kebudayaan.

Sebab tradisi bukan hanya tentang apa yang diwariskan dari masa lalu, tetapi tentang apa yang masih mampu kita hidupkan untuk masa depan.

Buku terkait